Bank Sampah dan Pemilahan
Membentuk dan menjalankan bank sampah unit di tingkat rukun warga.
SelengkapnyaEmpat program yang saling menyambung: sampah dipilah di rumah, diterima bank sampah, diolah menjadi barang atau kompos, lalu dijual kembali oleh warga yang mengerjakannya.
Membentuk dan menjalankan bank sampah unit di tingkat rukun warga.
Selengkapnya
Mengubah sampah plastik dan kertas menjadi barang yang laku dijual.
Selengkapnya
Mengolah sisa dapur dan sampah pasar menjadi kompos siap pakai.
Selengkapnya
Program pertama dan paling banyak diminta. Warga menabung sampah terpilah, mencatat beratnya, lalu menerima nilainya dalam bentuk tabungan.
Pendampingan dimulai dengan pertemuan warga untuk menyepakati jenis sampah yang akan dipilah, jadwal penyetoran, dan siapa yang bertugas mencatat. Setelah kesepakatan terbentuk, kami membantu menyiapkan buku tabungan, timbangan, dan daftar harga acuan yang mengacu pada harga pengepul terdekat.
Bank sampah unit selanjutnya menyetorkan sampah terkumpul ke bank sampah induk yang dikelola bersama. Penjualan dalam jumlah besar membuat harga yang diterima warga lebih baik daripada menjual sendiri-sendiri. Selisihnya dikembalikan ke tabungan nasabah dan sebagian kecil menjadi kas kelompok.
| Jenis | Contoh | Satuan |
|---|---|---|
| Plastik Keras | Botol minuman, ember, jeriken | Kilogram |
| Plastik Lembaran | Kantong belanja, bungkus makanan | Kilogram |
| Kertas | Kardus, koran, buku bekas | Kilogram |
| Logam | Kaleng, besi rongsok, aluminium | Kilogram |
| Kaca | Botol kaca utuh dan pecahan | Kilogram |
| Minyak Jelantah | Sisa minyak goreng rumah tangga | Liter |
Sebagian sampah lebih menguntungkan bila diolah dahulu sebelum dijual. Program ini mendampingi kelompok warga menjalankan pengolahan itu sebagai usaha.
Kelompok usaha dibentuk dari nasabah bank sampah yang bersedia bekerja lebih jauh. Bahan baku diambil dari sampah yang sudah terkumpul, sehingga kelompok tidak perlu mengeluarkan biaya pembelian bahan pada tahap awal. Yang didampingi adalah keterampilan mengolah, perhitungan biaya, dan pencarian pembeli.
Produk yang paling sering dikerjakan adalah tas dan dompet dari bungkus kemasan, gantungan kunci dan hiasan dari tutup botol, serta cacahan plastik yang dijual ke pabrik pengolah. Cacahan plastik memberi penghasilan paling stabil karena permintaannya tetap, sementara kerajinan memberi nilai tambah paling besar per satuan.
| Uraian | Jumlah |
|---|---|
| Bahan Baku Plastik Terpilah | 600 kilogram |
| Hasil Cacahan Bersih | 510 kilogram |
| Harga Jual Cacahan | Rp 4.800 per kilogram |
| Penerimaan Kotor | Rp 2.448.000 |
| Biaya Listrik dan Air | Rp 340.000 |
| Biaya Bahan Baku ke Nasabah | Rp 900.000 |
| Sisa Hasil Usaha | Rp 1.208.000 |
Angka di atas adalah contoh dari satu kelompok dampingan pada 2025 dan akan berbeda di setiap tempat, tergantung harga pengepul setempat dan jumlah bahan baku yang tersedia.
Lebih dari separuh sampah rumah tangga adalah sisa dapur. Bila diolah di tempat, beban pengangkutan turun dan warga mendapat kompos untuk kebunnya.
Program ini dijalankan dalam dua skala. Skala rumah tangga menggunakan komposter ember bertumpuk yang bisa diletakkan di halaman sempit, cocok untuk keluarga yang menghasilkan sisa dapur satu sampai dua kilogram sehari. Skala kampung menggunakan unit pengomposan bersama yang mengolah sisa dapur beberapa puluh keluarga sekaligus ditambah sampah pasar.
Kompos yang dihasilkan dipakai warga untuk tanaman di pekarangan, dibagikan kepada kelompok tani kota, atau dijual dalam karung kecil. Penjualan kompos belum menjadi sumber penghasilan utama, tetapi cukup untuk menutup biaya operasional unit.
| Hal | Rumah Tangga | Kampung |
|---|---|---|
| Kapasitas Harian | 1–2 kilogram | 300–400 kilogram |
| Waktu Panen | 6–8 minggu | 4–5 minggu |
| Tempat | Halaman rumah | Lahan 40–60 meter persegi |
| Pengelola | Anggota keluarga | 2–3 petugas bergilir |
Sebagian kelompok berkembang lebih jauh, membuat produk dari bahan alami setempat dan menjualnya ke pasar yang lebih luas.
Bahan yang digunakan berasal dari tanaman yang tumbuh di sekitar wilayah kerja, seperti akar wangi, pandan, eceng gondok, dan serat pisang. Produk yang dihasilkan berupa anyaman, wadah, sabun, dan pembersih rumah tangga berbahan minyak jelantah yang sudah diolah kembali.
Pendampingan pada tahap ini lebih banyak menyangkut mutu dan pemasaran. Kelompok dibantu menjaga ukuran dan hasil akhir agar seragam, menyiapkan kemasan dan keterangan produk, serta bertemu langsung dengan pembeli, toko, dan penyelenggara pameran.
| Produk | Bahan Utama | Kelompok Pengelola |
|---|---|---|
| Anyaman Wadah | Eceng gondok kering | Kelompok Rungkut Asri |
| Tikar dan Alas Meja | Pandan | Kelompok Gunung Anyar |
| Hiasan dan Pengharum | Akar wangi | Kelompok Sukolilo |
| Sabun Cuci Piring | Minyak jelantah olahan | Kelompok Mulyorejo |
| Tali dan Kemasan | Serat pisang | Kelompok Rungkut Menanggal |
Pengajuan dapat disampaikan oleh kelompok warga, pengurus rukun warga, atau pemerintah desa dan kelurahan. Kami akan menghubungi Anda untuk membahas kesiapan dan jadwal.